Selasa, 23 April 2013

Motivasi dalam Pendidikan


PEMBAHASAN

A.     Hakikat Motivasi
Kata motivasi berasal dari kata motif yang diartikan sebagai segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu apa yang ingin dilakukan. Menurut Sartain dalam Ngalim berpendapat bahwa motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku/perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang.[1] Menurut Woolfolk mendefinisikan motivation is usually defined as an internal state that arouses, directs, and maintains, behavior.[2]Motivasi biasanya didefinisikan sebagai suatu keadaan internal yang membangkitkan, mengarahkan, dan mempertahankan, perilaku”. Selain itu Alisuf mendefinisikan motivasi sebagai segala sesuatu yang menjadi pendorong suatu timbulnya tingkah laku.[3]
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu rangsangan yang terdapat pada diri seseorang yang diaplikasikan dalam perbuatan agar mencapai apa yang diinginkanya, pada dasarnya motivasi dipengaruhi dari unsur intrinsik diri seprti dari perasaan, kondisi kejiwaan yang pada akhirnya terangkai emosional yang kuat untuk berbuat sesuatu yang bersifat positif maupun negatif sesuai motif dalam dirinya.



B.   Jenis-Jenis Motivasi
Jenis Motivasi menurut Woolfolk terdiri atas dua bagian yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
1.  Motivasi instrinsik adalah kecenderungan alamiah untuk mencari dan menaklukan tantangan ketika kita mengejar kepentingan pribadi dan menerapkan kapabilitas.
2.  Motivasi ekstrinsik adalah suatu hal yang dilakukan untuk mendapatkan nilai, menghindari hukuman, membuat guru senang, atau alas an lain yang hanya sedikit sekali hubungannya dengan tugas itu sendiri.
Alisuf mengemukakan tentang Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan tujuan belajar; misalnya: ingin mengetahui suatu konsep; ingin memperoleh pengetahuan; ingin memperoleh kemampuan; dan sebagainya. Sedangkan Motivasi Ekstrinsik ialah motivasi yang datangnya dari luar diri individu, atau motivasi ini tidak ada kaitannya dengan tujuan belajar, seperti: belajar karena takut kepada guru; atau karena ingin lulus; ingin memperoleh nilai tinggi, yang semuanya itu tidak berkaitan langsung dengan tujuan belajar yang dilaksanakan.[4]
Dengan demikian dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari faktor pribadi dalam diri seseorang, seperti halnya timbul minat rasa keingintahuan terhadap sesuatu, adanya kebutuhan yang mendorong diri untuk melakukan sesuatu yang ingin dilakukannya, motivasi intrinsik ini yang sangat berpengaruh terhadap tindakan atau motif seseorang. Sedangkan motivasi eksternal adalah klasifikasi motivasi yang timbul dari faktor luar pribadi sepertihalnya pengaruh faktor lingkungan, situasi social masyarakat serta adanya hukuman yang memotivasi diri untuk bertindak.
C.   Teori Motivasi
1.    Behafioral
Menurut pandangan behavioral, pemahaman tentang motivasi siswa dimulai dengan analilisis yang saksama atas insentif dan reward yang disugukan di kelas. Reward adalah objek atau kejadian atraktif yang diberikan sebagai konsekuensi perilaku tertentu. Sebagai contoh si Unyil diberi reward poin bonus ketika ia menggambar sebuah diagram yang sangat bagus. Insentif adalah objek atau kajian yang mendorong atau menekan perilaku. Janji mendapatkan nilai A+ adalah insentif bagi si Unyil. Benar-benar mendapatkan nilai A+ adalah reward.
Bila kita secara konsisten memperkuat perilaku tertentu, kita dapat mengembangkan kebiasaan atau kecenderungan untuk bertindak dengan cara tertentu. Sebagai contoh bila siswa berulang kali diberi reward dengan afeksi, uang, pujian, atau hak istimewa untuk mendapatkan letters dalam bisbol, tetapi hanya mendapat sedikit pengakuan untuk belajar, siswa itu akan bekerja lebih lamadan lebih keras untuk menyempurnakan bola cepatnay daripada untuk memahami geometri. Memberikan nilai, bintang, stiker dan reinforce (penguat) lain untuk pembelajaran atau demerit (celaan) untuk perilaku yang tidak semestinya, adalah upaya untuk memotivasi siswa dengan sarana ekstrinsik yang berupa insentif, reward,  dan hukuman.

2.        Humanistik
Pada 1940-an para pendukung psikologis humanistik seperti Carl Rogers mengatakan bahwa tidak ada aliran psikologi yang dominan, behavioral atau Freudian, yang dapat menjelaskan secara adekuat mengapa orang bertindak cara tertentu. Interprestasi humanistik tentang motivasi menekankan sumber-sumber intrinsik motivasi seperti kebutuhan orang akan “self actualization” (aktualisasi diri)(Maslow, 1968, 1970), “actualizing tendency” (kecendrungan untuk mengaktualisasikan)  yang dibawa sejak lahir (Rogers & Freiberg,1994), atau kebutuhan akan “self determination” (determinasi-diri) (Deci, Vallerand, Palletier& Ryan, 1991). Jadi, dari perspektif humanistik, memotivasi berarti mendorong sumber daya dalam diri orang-rasa kompetisi,self esteem, otonomi dan aktualisasi diri mereka. Teori Maslow adalah salah satu penjelasan humanistik yang sangat berpengaruh tentang motivasi.
Abraham Maslow (1970) mengatakan bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan berkisar mulai kebutuhan-kebutuhan lebih rendah seperti bertahan hidup dan keamanan sampai ke kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi untuk mencapai/prestasi intelektual dan akhirnya aktualisasi-diri. Self –Actualization (aktualisasi-diri) adalah istilah Maslow untuk self-fulfillament, realisasi potensi pribadi. Setiap kebutuhan yang lebih rendah harus dipenuhi sebelum kebutuhan lebih tinggi dapat diraih.
Maslow (1968) menyebut keempat kebutuhan tingkat rendah –kebutuhan untuk bertahan hidup,lalu keamanan, yang diikuti oleh memiliki, dan setelah itu self-esteem-Deficiency needs (kebutuhan-kebutuhan defisiensi). Bila kebutuhan-kebutuhan itu telah terpenuhi, motivasi untuk memenuhi akan menurun.
Ia menyebut ketiga kebutuhan yang lebih tinggi-prestasi intelektual, lalu apresiasi estetik dan yang terakhir aktualisasi-diri-Being needs(kebutuhan “menjadi’). Bila kebutuhan-kebutuhan ini terpenuhi, motivasi seseorang tidak menghilang ;alih-alih,ia meningkat untuk mencapai kebutuhan lebih lanjut. Berbeda dengan kebutuhan-kebutuhan defisiensi, being needs tidak pernah sepenuhnya terpenuhi. Sebagai contoh, semakin sukses anda dalam usaha mengembangkan diri sebagai guru, semakin keras anda berusaha untuk mencapai peningkatan yang lebih tinggi lagi.
Teori Maslow dikritik karena alasan yang cukup jelas, yaitu bahwa orang tidak selalu tampak berprilaku sebagaimana diprediksikan oleh teori itu. Kebanyakan orang bergerak maju-mundur diantara berbagai macam kebutuhan dan bahkan dimotivasi oleh banyak kebutuhan berbeda sekaligus. Sebagian orang mengabaikan keamanan atau pertemanan untuk mencapai pengetahuan, pemahaman, atau self-esteem yang lebih besar.
Terlepas dari kritik itu, Teori Maslow member kita jalan untuk melihat siswa secara utuh, yang kebutuhan fisik, emosional, dan intelektualnya saling berkaitan. Seorang anak yang merasa aman dan merasa memiliki tetapi merasa terancam karena perceraian orang tuanya mungkin kurang berminat belajar cara membagi pecahan . Bila sekolah adalah tempat yang menakutkan dan tidak dapat diprediksi, Guru maupun Siswa tidak tau dimana mereka berdiri, mereka kemungkinan besar akan lebih concerned dengan keamanan dan kurang peduli terhadap belajar atau mengajar. Belonging to (menjadi bagian/anggota) sebuah kelompok sosial dan mempertahankan self esteem dalam kelompok itu, misalnya, penting bagi siswa. Bila mematuhi guru bertentangan dengan aturan kelompok, siswa mungkin memilih untuk mengabaikan keinginan guru atau bahkan menentang guru.
Pada tahun 90-an, para pendukung psikologi humanistic seperti Carl Rogers mengatakan bahwa tidak ada aliran psikologi yang dominan, behavior atau Freudian yang dapat menjelaskan adekuat mengapa orang bertindak dengan  cara tertentu. Interpretasi humanistik tentang motivasi menekankan sumber-sumber intrinsic seperti kebutuhan orang akan “self-actualization” (aktualisasi diri) (Maslow, 1968,1970).



3.    Kognitif
Dalam teori-teori kognitif, orang dianggap aktif dan ingin tahu, mencari informasi untuk mengatasi masalah-masalah yang relevan secara pribadi. Jadi, para pakar teori kognitif menekankan pada motivasi intrinsik. Dalam banyak hal,teori-teori kognitif tentang motivasi juga berkembang sebagai reaksi atas pandangan-pandangan behavioral. Para pakar teori kognitif percaya bahwa prilaku ditentukan oleh pikiran kita, bukan semata-mata apakah kita diberi reward atau hukuman untuk perilaku itu di masa lalu (Stipek,2002) Prilaku diprakarsai dan diregulasi oleh rencana (Miller, Galander,&Pribram,1960),tujuan (Locke & Latham,2002), skema (Ortony,Clore, & Collin,1988), ekspektasi(Vroom,1964), dan atribusi (Weiner,2000). Kita nanti akan melihat tujuan dan atribusi dalam kluster ini.

D.   Tujuan Motivasi
Tujuan motivasi menurut Ngalim adalah untuk menggerakan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu.[5] Sedangkan menurut Alisuf tujuan motivasi adalah untuk mendorong orang berbuat untuk mencapau tujuan.[6]
Menurut Blumenfeld dkk. Dalam Woolfolk terdapat tiga tujuan motivasi dalam pendidikan yaitu, “The first is to get students productively involved with the work of the class; in other words, to create a state of motivation to learn. The second and longer-term goal is to develop in our students the trait of being motivated to learn so they will be able “to educate themselves throughout their lifetime”. And finally, we want out students to be cognitively engaged-to think deeply about what they study. In other words, we want them to be thoughtful.[7] “Pertama untuk menjadikan siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar di kelas, dengan kata lain, untuk menciptakan keadaan belajar kondusif. Kedua untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sendiri untuk belajar lebih giat sehingga mereka mampu hidup mandiri. Ketiga agar siswa mampu untuk berpikir secara mendalam tentang apa yang mereka pelajari. Dengan kata lain, mereka menjadi bijaksana”.
Dari beberapa pendapat diatas mengenai tujuan motivasi adalah untuk menggugahkan potensi diri seseorang/keinginan untuk melakukan sesuatu yang pada akhirnya mencapai tujuan yang diinginkannya, seperti halnya tujuan motivasi dalam pendidikan agar anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya untuk mencapai tujuan dari proses pembelajaran yang ditentukan.

E.   Cara atau Strategi Membangkitkan Motivasi dalam Pendidikan
  1. Memberi murid kesempatan untuk memilih dan determinasi diri
a.    Luangkan waktu untuk berbicara dengan murid dan jelakan pada mereka mengapa aktifitas pembelajaran yang harus merrka lakukan adalah penting.
b.    Bersikaplah penuh perhatian (atentif). Perhatikan perasaan murid saat mereka disuruh melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukakn.
c.    Kelola kelas secara efektif. Usahakan agar murid bisa membuat pilihan personal. Biarkan murid memilih topic sendiri, tugas menulis, dan proyek riset sendiri. beri mereka pilihan dalam cara melaporkan tugas mereka.
d.    Ciptakan pusat pemebelajaran. Murid dapat belajar sendiri atau berkolaboratif dengan murid lain untuk proyek yang berbeda-beda di pusat pembelajaran itu. Misalnya seni bahasa atau computer.
e.     Bentuklah kelompok minat. Bagi murid ke dalam kelompok-kelompok minat dan biarkan mereka mengerjakan tugas riset yang  erelevan dengan minat mereka dan memonitor sendiri kemajuan menuju tujuan.
  1. Membantu murid mencapai pengalaman optimal (Flow)
a.    Kompeten dan termotivasi. Jadilah ahli dalam mata pelajaran atau pokok persoalan, tunjukan semangat saat anda mengajar, dan hadirkan diri anda sebagai model yang punya motivasi intrinsik.
b.    Ciptakan kesesuaian optimal. Strategi yang baik adalah mengembangkan dan mempertahankan kesesuaian optimal antara apa yang anda tugaskan pada murid dengan tingkat keahlian mereka.
c.    Naikkan rasa percaya diri. Beri murid dukungan instruksional dan emosional yang mendorong mereka untuk menjalani pembelajaran dengan penuh percaya diri dan sedikit dengan kecemasan.

Salah satu pandangan tentang motivasi intrinsik menekankan pada determinasi diri. Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Para periset menemukan bahwa motivasi internal dan minat intrinsik dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilihan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka (Grolnick dkk.,2002; Stipek, 1996, 2002). Misalnya, dalam sebuah studi, murid sains di SMA yang diajak untuk mengorganisasikan sendiri eksperimen mereka akan lebih perhatian dan berminat terhadap praktik laboratorium ketimbang murid yang diharuskan mengikuti instruksi dan aturan guru yang ketat (Rainey, 1965).

 
GLOSARIUM

Motivation : Motivasi, sebuah keadaan internal yang membangkitkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku.
Intrinsic motivation : Motivasi yang berhubungan dengan kegiatan yang bersifat penghargaan dalam diri mereka sendiri.
Extrinsic motivation : Motivasi ekstrinsik motivasi yang diciptakan oleh faktor-faktor eksternal seperti imbalan dan sanksi.
Behavioral : perspektif behavioral menekankan pada imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam dalam menetukan motivasi murid.
Kognitive :  
Reward : Objek atau kejadian atraktif yang diberikan sebagai konsekuensi suatu perilaku.
Insentive : Objek atau kejadian yang mendorong atau menekan suatu perilaku.
Interpretasi Humanistik : Pendekatan motivasi yang menekankan pada kebebasan pribadi, pilihan, tekad, dan usaha untuk pertumbuhan pribadi.
Aktualisasi diri : Memenuhi potensi pribadi.
Being needs : Tiga kebetuhan yang lebih tinggi dari teori Maslow, terkadang disebut juga Growth needs.

  
DAFTAR PUSTAKA


Purwanto, Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2007
Sabri, Alisuf. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 2007.
Santrock, John W. Psikologi Pendidikan. (edisi terjemahan). Kencana
Woolfolk, Anita. Education Psychology (ninth edition, International edition). Boston: Pearson education, Inc. 2007.


[1] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 60.
[2] Anita Woolfolk, Education Psychology (ninth edition, International edition). (Boston: Pearson education, Inc, 2007), h. 372.

[3] Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007), h. 85.
[4] Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007), h.85.
[5] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 73.
[6] Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007), h.86
[7] Anita Woolfolk, Education Psychology (ninth edition, International edition). (Boston: Pearson education, Inc, 2007), h.395.