Selasa, 23 April 2013

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN BAHASA


PEMBAHASAN
A.    Definisi dan Prinsip Perkembangan
       Perkembangan adalah pola perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional  yang dimulai sejak lahir dan terus berlanjut di sepanjang hayat. [1]  Kebanyakan orang mempersepsikan perkembangan adalah pertumbuhan yang berakhir pada (penurunan kondisi) kematian.
       Pola perkembangan anak adalah pola yang kompleks yang meliputi proses biologis, kognitif, dan sosioemosional dan periodisasinya.
       Menurut Santrock, perkembangan biologis adalah perubahan dalam tubuh anak. Dalam hal ini warisan genetik memegang peranan penting. Proses biologis ini melandasi perkembangan otak, berat dan tinggi badan, perubahan dalam kemampuan bergerak, dan perubahan hormonal di masa puber.
       Sementara itu, proses kognitif adalah perubahan dalam pemikiran, kecerdasan, dan bahasa anak. Proses ini memampukan anak untuk mengingat puisi, membayangkan bagaimana cara memecahkan soal matematika, menyusun strategi kreatif, atau menghubungkan kalimat menjadi pembicaraan yang bermakna.
       Sedangkan proses sosioemosional adalah perubahan dalam hubungan anak dengan orang lain, perubahan dalam emosi, dan perubahan dalam kepribadian. Pengasuhan anak, perkelahian anak, perkembangan ketegasan ank perempuan, dan perasaan gembira remaja saat mendapat nilai yang baik semuanya itu mencerminkan proses ini.
       Periodisasi perkembangan meliputi:
·         Infancy adalah periode dari kelahiran sampai 2 tahun
·         Early childhood (usia prasekolah) adalah periode  2 tahun – 6 tahun
·         Middle and late childhood (masa sekolah dasar) adalah masa 6 tahun – 11 tahun
·         Adolescence (remaja) adalah masa transisi uai anak menuju dewasa (10 tahun  - 20 tahun)
·         Early adulthood  adalah periode akhir usia remaja (20 tahun – 30 tahun)
·         Adult (dewasa)  

B.  Otak dan Perkembangan Kognitif
      Otak adalah benda putih yang lunak, terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf[2], yang memiliki stidaknya seratus milyar sel saraf sel saraf dan masing-masing sel saraf itu mempunyai ribuan sambungan/simpul.[3]
      Jumlah dan ukuran saraf otak terus bertambah  setidaknya sampai usia remaja. Beberapa penambahan ukuran otak dan perkembangan juga disebabkan oleh myelination yaitu proses yang ditunjukkan sel otak dan system saraf yang diselimuti oleh lapisan-lapisan sel lemak yang bersekat-sekat. Aspek penting lain adalah synapse yaitu jarak tipis antarneuron tempat terbentunya koneksi antarneuron.    
      Dalam studi terbaru yang menggunakan teknik pemindaian (scanning) otak yang canggih bahwa otak anak tampak mengalami perubahan anatomis yang substansial  adalah antara usia 3 – 15 tahun (Thomson dkk, 200, dalam Santrock).[4] Otak memiliki lateralisasi yaitu  spesialisasi fungsi dalam satu bagian otak atau satu bagian yang lainnya. Dalam individu dengan otak yang utuh, ada spesialisasi fungsi di beberapa area, yaitu:
1.      Pemrosesan verbal, kebanyak individu, ucapan dan tata bahasa berada dalam belahan kiri otak. Akan tetapi, ini bukan berarti ini bukan berarti bahwa semua pemrosesan bahasa dilakukan di belahan kiri.
2.      Pemrosesan nonverbal, belahan kanan biasanya lebih dominan dalam pemrosesan informasi nonverbal, seperti persepsi ruang (spasial), pengenalan visual, dan emosi.
Karena perbedaan dalam fungsi dua belahan otak inilah banyak orang yang menggunakan istilah otak kiri dan otak kanan untuk menyebutkan  belahan mana yang dominan. Misalnya secara berlebihan mengatakan bahwa otak kiri bersifat logis dan otak kanan bersifat kreatif. Padahal, fungsi paling kompleks tentang keduanya dalam diri orang orang normal melbatkan komunikasi antara kedua belahan otak tersebut.              
Otak manusia adalah sebuah organ yang sangat rumit, yang mencakup setidaknya seratus milyar sel saraf, yang di dalamnya terdapat neuron, sinapsis, akson, selubung myelin, dan bagian lainnya yang terdapat dalam otak. Peran otak dalam pembelajaran dan perkembangan kognitif :
·      Sebagian besar pembelajaran kemungkinan melibatkan perubahan-perubahan di neuron dan sinapsis.
·      Perubahan-perubahan perkembangan yang terjadi di otak memungkinkan terjadinya proses berpikir yang semakin kompleks dan efisien.
·      Banyak bagian otak bekerja sama secara harmonis untuk memudahkan terjadinya proses berpikir dan berperilaku yang rumit.
·      Otak tetap mampu beradaptasi seumur hidup.

                Perkembangan otak mempengaruhi perkembangan kognitifnya. Kognitif dapat diartikan sebagai potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal). Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.
            Ormrod menyebutkan perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan berpikir dan penalaran yang semakin canggih seiring bertambahnya usia. Sedangkan perkembangan linguistik atau bahasa adalah perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa yang semakin canggih seiring bertambahnya usia.[5] 
Prinsip Perkembangan Manusia menurut Ormrod adalah sebagai berikut.
·           Urutan perkembangan dapat diramalkan
Perkembangan manusia sering kali dicirikan oleh tonggak perkembangan, perilaku-perilaku baru yang semakin kompleks seiring meningkatnya tahap perkembangan yang muncul dalam urutan yang dapat diramalkan.
·           Berkembang dalam kecepatan yang berbeda
Perkembangan tidak terjadi dalam kecepatan yang konstan. Suatu pertumbuhan yang relatif cepat dapat diselingi dengan pertumbuhan yang lambat. Sejumlah pakar menggunakan pola-pola pertumbuhan dan perubahan yang tidak rata semacam itu sebagai bukti adanya periode-periode perkembangan yang secara kualitatif berbeda.
·           Faktor hereditas (keturunan)
Hampir semua aspek perkembangan anak dipengaruhi secara langsung atau tidak langsung oleh susunan genetis anak yang bersangkutan. Meski demikian, tidak semua karakteristik turunan tersebut tampak pada waktu kelahiran. Hereditas terus mempengaruhi perkembangan anak sepanjang proses kematangan.
·           Faktor lingkungan
Faktor lingkungan juga memberikan kontribusi yang penting terhadap perkembangan. kondisi lingkungan dapat mempengaruhi karakteristik yang sebagian besar dikendalikan oleh faktor hereditas.
·           Hereditas dan lingkungan saling berinteraksi membentuk perilaku.
Faktor hereditas dan lingkungan saling berinteraksi dan tidak dapat dipisahkan. Gen membutuhkan dukungan lingkungan agar dapat beroperasi. Jadi, tidak bisa dikatakan bahwa genetik lebih berpengaruh terhadap perkembangan anak dan sebaliknya. Tapi, keduanya saling berkaitan.

C.    Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Jean Piaget (1896-1980) pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam memahami dunia mereka  yang aktif itu mereka menggunakan skema (kerangka kognitif /kerangka referensi) Sekama (schema) adalah konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi.
§  Piaget mengatakan ada dua proses yang bertanggung jawab  atas cara anak menggunakan dan mengadaptasi skema mereka: asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya.
§      Sedangkan, akomodasi adalah proses ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru. Akomodasi adalah mengubah skema yang telah ada agar sesuai dengan situasi baru. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali.[6]
Piaget menekankan bahwa anak-anak secara aktif membangun dunia kognitif mereka sendiri, informasi dari lingkungan tidak begitu saja dituangkan ke dalam pikiran-pikiran mereka. Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Kecerdasan merupakan proses yang berkesinambungan yang membentuk struktur yang diperlukan dalam interaksi terus menerus dengan lingkungan. Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan, pengetahuan sangat subjektif waktu masih bayi dan masa kanak–kanak awal dan menjadi objektif dalam masa dewasa awal.
Beberapa asumsi Piaget tentang perkembangan kognitif anak.
  • Pertama, Piaget berasumsi bahwa anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan termotivasi. Ia meyakini bahwa anak-anak secara alami memiliki ketertarikan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka memahami dunia tersebut dengan bereksperimen dan mengamati dampak tindakan mereka.
  • Asumsi kedua, bahwa anak-anak mengkonstruksi pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman. Anak-anak tidak hanya mengumpulkan hal-hal yang telah mereka pelajari saja, tapi mereka juga menggabungkan pengalaman-pengalamannya menjadi suatu pandangan terintegrasi mengenai cara kerja dunia disekitarnya. Teori ini terkadang disebut teori konstruktivisme yaitu perspektif teoritis yang menyatakan bahwa para pembelajar mengkonstruksi (construct), alih-alih menyerap, pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka. Dalam pandangan Piaget, anak-anak secara aktif membangun dunia kognitif mereka dengan menggunakan skema untuk menjelaskan hal-hal yang mereka alami. Skema adalah kumpulan tindakan dan pikiran yang serupa, yang digunakan secara berulang dalm rangka merespons lingkungan (Ormrod, 2009:41). Tiap anak memiliki skema yang berbeda-beda sesuai dengan periode perkembangannya.
  • Asumsi ketiga adalah bahwa ana-anak belajar melalui dua proses yang saling melengkapi yaitu proses penyesuaian skema (adaptasi) sebagai tanggapan atas lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi.
§  Asimilasi adalah proses memahami objek atau peristiwa baru berdasar skema yang telah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya.
§  Akomodasi adalah mengubah skema yang telah ada agar sesuai dengan situasi baru. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. (Slavin, 2011:43)
·      Asumsi keempat adalah bahwa interaksi anak dengan lingkungan fisik dan sosial adalah faktor yang sangat penting bagi perkembangan kognitif. Dalam pandangan Piaget, interaksi sosial juga sama pentingnya bagi perkembangan kognitif anak.
·      Asumsi kelima adalah bahwa proses equilibirasi mendorong kemajuan ke arah kemampuan berpikir yang semakin kompleks. Piaget mengemukakan bahwa anak-anak sering berada dalam kondisi equilibrium yaitu proses di mana seorang individu merespons peristiwa-peristiwa baru berdasarkan skema yang sudah ada. Seiring waktu dan pertumbuhan mereka terkadang menemukan situasi di mana pengetahuan atau keterampilan yang mereka miliki tidak memadai, seperti ketidaknyamanan mental yang mendorong anak-anak berusaha memahami hal-hal yang sedang mereka observasi yang disebut disequilibirium. Setelah proses tersebut terjadi, akan kembali ke kondisi equilibirium. Proses pergerakan dari ekuilibirium ke disequilibirium lalu kembali lagi ke equilibirium disebut sebagai equilibrasi. 
·      Asumsi keenam adalah bahwa sebagai salah satu akibat dari perubahan kematangan di otak, anak-anak berpikir dengan cara-cara yang secara kualitatif berbeda pada usia yang berbeda. Otak terus berkembang sepanjang masa seiring bertambahnya usia proses berpikirnya semakin kompleks. Perubahan-perubahan tersebut terjadi dimulai pada usia sekitar 2 tahun, dan terjadi lagi pada usia 6 atau 7 tahun, dan terjadi lagi saat masa pubertas.[7] 

           Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam empat periode utama yang berkorelasi dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
1.      Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghiang dari pandangannya, asal perpindahanya terlihat. Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya dan bersamaan dengan itu konsep objek dalam struktur kognitifnya pun mulai dikatakan matang. Ia mulai mampu untuk melambungkan objek fisik ke dalam symbol-simbol, misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan, suara binatang, dll.
2.      Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
Tahap ini adalah tahap pemikiran yang lebih simbolis disbanding tahap sensorimotor. Tahap ini lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis. Tahap ini adalah persiapan untuk pengorganisasian kea rah yang lebih konkret. Pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-objek yang kelihatannya berbeda, maka ia mengatakanya berbeda pula. Pada tahap ini anak masih berada pada tahap pra operasional belum memahami konsep kekekalan (conservation), yaitu kekekalan panjang, kekekalan materi, luas, dll. Selain dari itu, ciri-ciri anak pada tahap ini belum memahami dan belum dapat memikirkan dua aspek atau lebih secara bersamaan.
3.      Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
Pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda benda konkret. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif. Anak pada tahap ini sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika, tetapi hanya objek fisik yang ada saat ini (karena itu disebut tahap operasional konkrit). Namun, tanpa objek fisik di hadapan mereka, anak-anak pada tahap ini masih mengalami kesulitan besar dalam menyelesaikan tugas-tugas logika.
4.      Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Pada tahap ini anak sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak dan menggunakan logika. Ini adalah tahap kognitif terakhir.  Pada tahap ini individu sudah mulai memikirkan pengalaman kongkret, dan memikirkannya secara lebih abstrak, idealis, dan logis. Penggunaan benda-benda konkret tidak diperlukan lagi. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau peristiwa berlangsung. Penalaran terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya dengan menggunakan simbol-simbol, ide-ide, astraksi dan generalisasi. Ia telah memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan hubungan di antara hubungan-hubungan, memahami konsep promosi.


D.   Teori Lev Vygotsky tentang Peran Sosio-cultural dalam Perkembangan   
  Bahasa
Teori Vygotsky mendukung teori Piaget yang meyakini bahwa perkembangan kognitif anak berkembang sesuai dengan tahapan-tahapan usianya. kalau Piaget berpandangan bahwa anak-anak memegang kendali terhadap perkembangan kognitif mereka sendiri. Sedangkan Vygotsky meyakini bahwa orang-orang dewasa di masyarakat mendorong perkembangan kognitif anak secara sengaja dan sistematis. Jadi, biarkanlah anak bersosialisasi dengan orang lain. Masyarakat dan budaya berperan penting terhadap perkembangan kognitif anak, dengan anggapan tersebut teori ini  disebut sebagai perspektif sosiokultural.
Beberapa asumsi Vygotsy tentang perkembangan kognitif anak :
·      Percakapan pribadi. Percakapan pribadi adalah mekanisme yang ditekankan Vygotsky untuk mengubah pengetahuan bersama menjadi pengetahuan pribadi. Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak menyerap percakapan orang lain kemudian menggunakan percakapan itu untuk membantu diri sendiri memecahkan masalah.
·      Zona Perkembangan Proksimal (ZPD). Zona of proximal development (ZPD) adalah rentang jenis tugas yang dapat diselesaikan seorang pembelajar dengan bantuan dan bimbingan orang lain, namun yang tidak dapat diselesaikan pembelajar yang sama secara mandiri (Ormrod, 2009:58). Tugas-tugas dalam zona perkembangan proksimal adalah sesuatu yang masih belum dapat dikerjakan dengan bantuan teman yang lebih kompeten atau orang dewasa. Tugas-tugas yang menantang akan mendorong pertumbuhan kognitif yang maksimum.
·      Pentanggaan. Pentanggaan (scaffolding) adalah mekanisme pendukung yang membantu seorang pembelajar untuk berhasil menyelesaikan suatu tugas dalam zona perkembangan proksimalnya (Ormord, 2009:63). Pentanggaan berarti menyediakan banyak dudkungan kepada seoarang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi dukungan dan meminta anak tersebut memikul tanggung jawab yang makin besar begitu dia sanggup ((Rosenshine & Meister, 1992) dalam Slavin, 2011 :59).
·      Pembelajaran Kooperatif. Anak-anak bekerja sama untuk membantu satu sama lain, dan adanya interaksi dengan rekan sebaya yang memungkinkan percakapan batin anak-anak tersedia bagi yang lain, sehingga mereka dapat memperoleh pemahaman tentang proses penalaran satu sama lain.

E.  Perkembangan Bahasa
Menurut  Vygotsky (1962) anak-anak menggunakan bahasa bukan hanya untuk komunikasi social, tetapi juga untuk merecanakan, memonitor perilaku mereka dengan caranya sendiri. Penggunaan bahasa untuk mengatur diri sendiri dinamakan “pembicaraan batin” (inner speech) atau “pembicaraan privat” (private speech). Menurut Piaget, private speech bersifat egosentris dan tidak dewasa, tetapi menurut Vygotsky, private speech adalah alat penting bagi pemikiran selama masa anak-anak. Ia percaya bahwa bahasa dan pikiran pada mulanya berkembang sendiri-sendiri lalu kemudian bergabung.
Padangan Vygotsky terhadap bahasa bertentangan dengan Piaget. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa bahkan dalam bentuknya yang paling awal sekalipun, berbasis sosial. Sedangkan Piaget menganggap pembicaraan anak sebagai nonsosial dan egosentris. Menurut Vygotsy, ketika anak kecil berbicara pada dirinya sendiri, mereka menggunakan bahasa untuk mengatur perilaku mereka sendiri. Sedangkan Piaget percaya bahwa kegiatan bicara dengan diri sendiri itu mencerminkan ketidakdewasaan (immaturity)
Lingkungan seorang anak memainkan peranan penting dalam perkembangan linguistik. Di mana anak-anak mulai mengucapkan kata-kata yang dapat dikenali sekitar usia 1 tahun. Selanjutnya, anak mulai menggabung-gabungkan kata-kata tersebut pada usia sekitar 2 tahun. Selama periode taman kanak-kanak, mereka mulai mampu menyusun kalimat yang semakin panjang dan kompleks. Saat mereka mulai masuk sekolah kira-kira pada usia 5 atau 6 tahun, mereka menggunakan bahasa yang menyerupai bahasa orang dewasa. Kemampuan bahasa tersebut terus berkembang dan matang sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
Pertama adalah perkembangan kosakata, perubahan yang nyata dalam bahasa anak-anak semasa tahun tahun sekolah adalah peningkatan kosakata. Pengetahuan mengenai makna-makna kata disebut semantika. Kemudian dilanjutkan dengan perkembangan sintaksis, di mana anak-anak mulai meletakkan berbagai kata sekaligus menjadi kalimat-kalimat yang memiliki aturan atau tata bahasa yang tepat.
Perkembangan selanjutnya adalah perkembangan kemampuan mendengarkan, kemampuan anak memahami apa yang didengar dipengruhi oleh pengetahuan mereka mengenai kosakata dan sintaksis, namun faktor-faktor lain juga berpengaruh. Dilanjutkan dengan perkembangan keterampilan komunikasi lisan. Sebuah kmponen komunikasi lisan yang efektif adalah pragmatika, yaitu konvensi-konvensi sosial yang mengarahkan interaksi lisan yang tepat dengan orang lain. pragmatika mecakup tidak hanya peraturan-peraturan mengenai etiket, tetapi juga mencakup strategi-strategi mengawali dan mengakhiri percakapan, mengubah subjek pembicaraan, menceritakan kisah, dan berdebat secara efektif. Kurangnya keterampilan gramatika bisa sangat menghambat hubungan siswa dengan teman-temannya.
      Selanjutnya perkembanagn kesadaran metalinguistik, yaitu kemampuan memikirkan hakikat bahasa itu sendiri. Kesadaran metalinguistik tampaknya berkembang lambat seiring berlalunya waktu. Tingkat pemahaman tentang suatu hakikat bahasa berbeda-beda tiap periode perkembangannya, semakin bertambah usia kesadaran mereka semakin tinggi dalam memahami apa itu bahasa dan bagaimana fungsinya. Mempelajari bahasa kedua bisa mendorong kesadaran metalinguistik anak, di mana anak bisa mengembangkan kesadaran fonologisnya untuk bisa mendengarkan bunyi-bunyi yang khas yang menyususn kata-kata lain.



F.   Implikasi terhadap Pendidikan
1.    Implikasi Teori Piaget terhadap Pendidikan
Teori Piaget memusatkan perhatian pada gagasan pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan pendidikan dengan lingkungan, kurikulum, bahan ajar, dan pengjaran yang sesuai bagi siswa dari sudut kemampuan fisik dan kognisi mereka dan kebutuhan sosial  dan emosi mereka. Implikasinya sebagai berikut :
·      Fokus pada pemikiran siswa, bukan hanya hasilnya.
·      Pengakuan atas peran penting kegiatan pembelajaran berdasar keterlibatan aktif yang diprakarsai sendiri oleh siswa.
·      Tidak menekankan praktik yang ditujukan untuk menjadikan siswa berfikir seperti orang dewasa.
·      Penerimaan atas perbedaan kemajuan perkembangan masing-masing orang.

2.    Implikasi Teori Vygotsky dalam Pengajaran
·      Keinginan menyususn rencana pembelajaran kooperatif di antara kelompok-kelompok siswa yang mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda yang dapat membantu belajar satu sama lain.
·      Pendekatan pengajaran Vygotsky menekankan pentanggaan, dengan siswa yang memikul makin banyak tanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri. Dengan menyediakan isyarat dan bisikan pada tingkat yang berbeda. Dalam petanggaan, orang dewasa tidak menyederhanakan tugas, tapi peran belajar yang disederhanakan melalui campur tangan gurunya secara bertahap.






GLOSARIUM

Adolescence (remaja) adalah masa transisi uai anak menuju dewasa (10 tahun  - 20 tahun)
Adult (dewasa) 
Akomodasi adalah proses merespons suatu peristiwa baru dengan memodifikasi suatu rancangan yang telah ada atau dengan membentuk suatu rancangan baru
Asimilasi adalah proses merespons suatu peristiwa baru secara konsisten dengan rancangan yang telah dimiliki
Disequilibirium adalah proses di mana seorang individu tidak mampu merespons peristiwa-peristiwa baru sesuai skema yang telah ada; pada umumnya disertai ketidaknyamanan mental
Early childhood (usia prasekolah) adalah periode  2 tahun – 6 tahun
Middle and late childhood (masa sekolah dasar) adalah masa 6 tahun – 11 tahun
Early adulthood  adalah periode akhir usia remaja (20 tahun – 30 tahun)
Egosenstrisme adalah ktidakmampuan annak-anak pada tahap praoprasional untuk melihat situasi dari perspektif orang lain
Equiliibirasi adalah pergerakan dari aquilibirium ke disequilibirium dan kembali lagi ke equlibirium; suatu proses yang mendorong perkembanagn pikiran dan pemahaman yang semakin kompleks
Equilibirium adalah proses di mana seorang individu merespons peristiwa-peristiwa baru berdasarkan skema yang sudah ada
inner speech adalah pembicaraan batin
Infancy adalah periode dari kelahiran sampai 2 tahun
Kesadaran Fonologis adalah kemampuan untuk mendengar bunyi-bunyi yang khas yang menyusun kata-kata lisan
Kesadaran Metalinguistik adalah kemampuan memikirkan hakikat atau sifat bahasa itu sendiri
Konservasi adalah kesadaran bahwa suatu volume atau massa suatu materi tidak ditambahi atau dikurangi, melainkan tetap sama sekalipun wadah, bentuk, atau susunan materi tersebut diubah
Konstruktivisme adalah perspektif teoritis yang menyatakan bahwa para pembelajar mengkonstruksi (construct), alih-alih menyerap, pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka
Penalaran deduktif adalah proses penarikan kesimpulan logis mengenai sesuatu yang pasti benar, berdasarkan informasi yang sebelumnya telah diketahui benar
Perspektif sosiokultural adalah perspektif teoritis yang menekankan pentingnya masyarakat dan budaya dalam meningkatkan perkembangan kognitif
Pragmatika adalah pengetahuan mengenai konvensi-konvensi sosial yang khas budaya tetentu, yangb berfungsi memandu inetraksi verbal
Private speech adalah pembicaraan privat           
Scaffolding adalah mekanisme pendukung yang membantu seorang pembelajar untuk berhasil menyelesaikan suatu tugas dalam zona perkembangan proksimal
Semantika adalah makna kat-kata dan kombinasi-kombiasinya
Sintaksis adalah rangkaian peraturan yang digunakan seorang seringkali tanpa disadari untuk menempatkan kata-kata yang menjadi kalimat
Skema adalah kelompok tindakan atau pikiran yang serupa dan terorganisasi, yang digunakan secara berulang dalam rangka merespons
ZPD/Zona of proximal depelovment adalah rentang jenis tugas yang dapat diselesaikan seorang pembelajar dengan bantuan dan bimbingan orang lain, namun yang tidak dapat diselesaikan pembelajar yang sama secara mandiri

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
     Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Ormrod, Jeanne Ellis 2009. Educational psychology develoving learners  
     (edisi terjemahan). Jakarta : Penerbit Erlangga.

Santrock, John W. 2001. Educational Psychology  (edisi terjemahan). Jakarta:             Kencan Prenada Media Group.

Slavin, Robert E. 2011. Educational psychology (edisi terjemahan). Edisi         Kesembilan. Jakarta:   PT Indeks.